×
Dinas Pendidikan, Mari Bergerak. Anda Mempunyai Peran Penting dalam Proses Belajar Guru

Dinas Pendidikan, Mari Bergerak. Anda Mempunyai Peran Penting dalam Proses Belajar Guru


Oleh: Wahyu Widodo Samsudin, S.T., M.PP.

Pokja Pembelajaran BBGP Provinsi Jawa Tengah


Kurikulum Merdeka, sebuah perubahan yang siginifikan dalam dunia pendidikan Indonesia. Apa yang membuat Kurikulum Merdeka memberi perubahan yang lebih besar daripada kurikulum sebelumnya? Bukan hanya elemen-elemen baru seperti yang disebut secara lugas seperti pembelajaran terpusat kepada murid, ataupun project penguatan profil pelajar Pancasila. Kurikulum ini mentransformasi teacher professional development tradisional yang telah berjalan selama beberapa dekade. Pelatihan guru pra Kurikulum Merdeka dilakukan secara luring dengan mengundang guru-guru dari daerah untuk dilatih dan dibekali dengan pengetahuan dan skill tertentu untuk kemudian diterapkan dan diimbaskan ke guru-guru lain. Metode ini akan memakan waktu yang lama dan biaya yang besar hanya untuk dapat mengimbaskan satu materi ke semua guru. Kita bisa bayangkan apabila kapasitas pelatihan guru di jawa tengah adalah 5000 peserta pertahun dan dengan jumlah guru yang mencapai 300 ribu, berapa waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk dapat 1 topik materi pengetahuan atau skill mengimbaskan ke semua guru. Sementara, pengetahuan terkait proses pembelajaran selalu berkembang.

Hal baru dalam teacher professional development di Indonesia adalah pemanfaatan teknologi. Salah satunya adalah aplikasi Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang merupakan super app dalam teacher professional development.  PMM ini digadang gadang menggantikan konsep tradisional TPD dengan memberikan kesempatan bagi guru untuk belajar dimana saja dan kapan saja secara mandiri. Materi pembelajaran yang ada di PMM bukan hanya pelatihan mandiri terkait Kurikulum Merdeka yang terdiri dari 7 topik wajib yang diproduksi oleh Kemendikbudristek, namun PMM ini juga merupakan social media-nya guru dimana guru dapat “pamer” bukti karya yang dapat menginspirasi guru-guru lain. 

Namun demikian, secara pribadi saya mempertanyakan kesiapan guru dalam perubahan mindset dari tradisional TPD ke PMM yang menuntut guru untuk belajar mandiri terkait Kurikulum Merdeka. Data dashboard PMM pada 22 November menunjukkan dari total sekitar 311 ribu guru di Jawa Tengah baru sekitar 109 ribu atau kurang dari 35% yang telah mengirimkan aksi nyata yang merupakan tahapan akhir dari belajar mandiri dari sebuah topik terkait Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan belum berjalannya proses belajar mandiri guru melalui PMM, padahal di data yang sama menunjukkan sekitar 200 ribuan guru yang telah melalui tahapan menonton video, mengerjakan kuis, melakukan refleksi dan mengerjakan post-test. Dari data dashboard PMM ini kita dapat menyimpulkan adanya bottleneck di proses pengembangan aksi nyata yang merupakan hasil dari refleksi personal guru terkait topik yang dipelajari di PMM.

Lantas bagaimana mendorong guru dalam proses belajar mandiri di PMM sehingga mereka dapat memahami Kurikulum Merdeka secara utuh? BBGP Provinsi Jawa Tengah sebagai UPT Kemdikbudristek yang bertugas untuk mengawal implementasi Kurikulum Merdeka telah mengadakan beberapa kegiatan untuk mendorong proses belajar guru melalui PMM melalui 6 strategi IKM seperti pemberdayaan komunitas belajar, penguatan narasumber, dan seri webinar. Namun demikian, kolaborasi dengan organisasi lain mutlak diperlukan untuk menggerakkan guru belajar mandiri baik dengan BBPMP Provinsi Jawa Tengah yang melakukan advokasi ke otoritas daerah, begitu juga bersama Dinas Pendidikan yang mempunyai yurisdiksi terhadap guru-guru di sekolah.

Di dalam konteks lokal, Dinas Pendidikan mempunyai peran sentral dalam mendorong guru dalam proses ini. Hal ini dikarenakan guru-guru di daerah mempunyai keterikatan dengan Dinas Pendidikan setempat sehingga pengaruh intervensi akan semakin kuat. Pemerintah Daerah dapat berkontribusi untuk kesuksesan sebuah kebijakan dalam hal ini implementasi Kurikulum Merdeka beberapa cara seperti: mendesign kebijakan dalam skala lokal, memobilisasi sumber daya dan membentuk tim yang bertanggung jawab dalam penerapan kebijakan tersebut (Oluwu & Smoke, 1992). Selain itu, pemerintah daerah dapat mengambil pelajaran dengan meniru atau memodifikasi strategi yang digunakan oleh pemerintah daerah lain yang terlebih dahulu sukses (Lundin et al., 2015). 

Dalam konteks ini, terdapat beberapa contoh yang menggambarkan pentingnya keterlibatan Dinas Pendidikan setempat dalam mendorong guru untuk belajar mandiri, mengembangkan dan mengirimkan aksi nyata ke PMM. Pada data dashboard PMM tanggal 11 November 2022, Kabupaten Temanggung menempati peringkat 35 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam tingkat pengiriman aksi nyata. Hal ini ditindak lanjuti oleh Dinas setempat dengan menyelenggarakan webinar terkait bagaimana mengembangkan aksi nyata dengan mengundang narasumber yang memberikan contoh secara langsung bagaimana mereka mengembangkan aksi nyata. Kegiatan ini memberi pencerahan guru yang belum mampu mengembangkan aksi nyata dan dapat mengangkat posisi Kabupaten Temanggung dari peringkat bawah ke posisi 14 dari 35 Kabupaten/kota se Jawa Tengah untuk prosentase guru yang telah mengirim aksi nyata (data 22 November 2022). Contoh lain juga terjadi di Kabupaten Purbalingga, dimana pada awal November berada di posisi buncit. Intervensi kemudian dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga yang mendorong pengawas sekolah untuk mendampingi guru-guru dalam belajar mandiri dan mengembangkan aksi nyata. Hasil yang serupa diperoleh Kabupaten Purbalingga, intervensi tersebut meningkatkan prosentasi guru yang telah mengirim aksi nyata dan mengangkat posisi mereka ke urutan 24 dari 35 Kabupaten/Kota (data PMM 22 November 2022).

Dari kasus-kasus tersebut, kita dapat menyimpulkan betapa peran Dinas Pendidikan dominan dalam kesuksesan implementasi Kurikulum Merdeka. Dengan intervensi tersebut, terbukti 2 kabupaten yang semula prosentase pengiriman aksi nyata di PMM paling rendah dapat meningkatkan prosentasenya secara signifikan dan mendorong guru untuk belajar mandiri. Jadi tunggu apalagi, mari berbenah dan berkolaborasi untuk mengawal dan membumikan Kurikulum Merdeka.


Referensi:

1. Dashboard PMM tanggal 9 November, 11 November, dan 22 November 2022

2. Olowu, D., & Smoke, P. (1992). Determinants of success in African local governments: an overview. Public Administration and Development, 12(1), 1-17.

3.Lundin, M., Öberg, P., & Josefsson, C. (2015). Learning from success: Are successful governments role models?. Public Administration, 93(3), 733-752.